Indonesia Ku

WELCOME TO MY BLOG

GAME DAPAT DOLLAR

Lot of Visitors

ANGKA "0"

Mencabik Mitos: al-Khawarizmi penemu angka “0”

Seperti tulisan saya yang terdahulu, dalam tulisan saya kali ini akan mencoba memberikan membahas tentang tokoh islam yang dianggap mempelopori lahirnya sains. al-Khawarizmi atau lebih lengkapnya Abu Abdallah Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi adalah seorang ilmuawan islam yang sangat berpengaruh dalam perkembangan sains. ia telah memperkenal isitilah aljabar yang dikenal oleh orang Eropa melalui karyanya “Hisab al-Jabr w’al-muqabala”, yang di dalamnya ia memisahkan aljabar sebagai suatu bidang pelajaran yang terpisah dari aritmatika dan geometri. selain seorang matematikawan yang handal, ia juga seorang astronomis, dan ahli geografi.

Sekilas latar belakang Al-khawarizmil

Al-Khawarizmil, lahir kira-kira tahun 780 AD di Khwarezm , yang merupakan salah salah satu propinsi dari kerajaan Persia ( sekarang Uzbekistan), namanya diabadikan untuk menunjuk kepada asalnya Al-Khawarizmil berarti “dari khawazmil”. Setelah islam menaklukan kerajaan Persia dibawah Khalifah Umar, baghdad kemudian menjadi pusat studi dan perdagangan. Di Baghdad ia bekerja sebagai seorang ilmuawan dan penerjemah di sebuah pusat pendidikan yang disebut Bait al-Hikma” atau “rumah kebijaksanaan” di bawah pengawasan kalifah Al-Ma’mun, anak dari khalifah Harun Al-Rasyid yang membangun pusat pendidikan tersebut. Pada awalnya tujuan dari Bait al-Hikma” ini dibangun untuk menerjemahkan naskah-naskah peninggalan para ilmuwan Persia pra-islam ke dalam bahasa arab, yang saat itu dianggap sebagai bahasa suci yang harus digunakan. Walaupun pada awalnya penerjemahan hanya dilakukan terhadap teks-teks berbahasa Pahlavi (tulisan asli Persia), namun lama kelamaan tulisan-tulisan dari Syria, Yunani dan tulisan-tulisan dalam bahasa Sansekerta yang berasal dari india pun mulai diterjemahkan. Bait al-Hikma” merupakan salah satu tempat yang merangasan lahirnya pemikir-pemikir yang berusaha menggabungkan antara iman islam dan filsafat “kafir”. (Kemudian hari para pemikir ini dituduh sesat dan diberi sebutan Mu’tazila yang berasal dari kata i tazala artinya yang melenceng/sesat). Kemudian Bait al-Hikma” dikucilkan dibawah kekuasan kalifah al-Mutawakkil yang lebih setia terhadap ajaran Al-quran

Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir al-Tabari yang adalah seorang sejahrawan dan penafsir Al-quran, dalam karya-karyanya sering menyebutkan Al-Khawarizmil dengan julukan al-Majūs. Sebutan ini merupakan sebuatan yang khas bagi kaum penganut Zoroasther-agama asli bangsa Persia. julukan ini melahirkan interpretasi oleh sebagaian ahli seperti G.J. Toomer yang didalam “The Dictionary of Scientific Biography” menyimpulkan bahwa kemungkinan besar Al-khawarizmil adalah seorang non muslim atau penganut Zoroasther Tua. Tapi kesimpulan G.J. Tommer ini tidak memperhitungkan kenyataan bahwa Al-khwarizmil bekerja di “bait al-hikma” yang bukan merupakan sebuah tempat yang ‘welcome’ bagi seorang Zoroasther. Mengenai julukan ini saya lebih menyimpulkan bahwa julukan ini adalah sindiran al-Tabari terhadap prilaku Al-khawarizmil yang ’sinkritis’ dimana walauapun mengaku beragama islam, namun pola hidupnya lebih mirip seorang Zoroasther.

Al-Khawarizmil cukup beruntung karena sudah meninggal sekitar tahun 845 atau sekitar 840. Sehingga ia tidak sempat melihat bagaimana ilmuwan sepertinya kemudian ditindas.khalifah al-Mutawakkil yang berkuasa sejak tahun 847 sampai 861.

Al-Khawarizmil orang pertama yang menggunakan “angka Nol” ?

Seperti yang sudah saya jelaskan diatas bahwa Al-khawarizmil sama sekali tidak mendapat sumabangsih apapun dari islam. Justru ia memperdalam ilmu-ilmu matematika, dan geografi dari buku-buku yang ditulis oleh orang-orang non Muslim atau kafir. Yang berasal dari India, Persia, Cina dan Yunani. Islam sama sekali tidak memberikan apa-apa kecuali bahasa Arab dan budaya Arab kepada Al-khawariznil. Mitos lain yang sering didongengkan oleh para muslim adalah bahwa ilmuwan islamlah yang telah menciptakan ”angka nol”sebagai lambang dari bilangan yang tidak memiliki anggota. Namun apakah benar demikian ?!

Al-kwarizmil merupakan tokoh yang sering dibanggakan sebagai ’sang muslim’ penemu angka nol. Namun penggalian sejarah ternyata tidak sesuai dengan mitology tersebut. karena pada kenyaatanya di Amerika selatan khususnya suku maya, telah mengembangkan sistem angka termasuk angka nol sebelum hal ini dilakukan masyarakat India.

Sayangnya, penemuan besar ini tidak menyebar ke budaya manapun. Menurut Michael P. Closs dalam bukunya yang berjudul Mathematics Across Cultures: The History of Non-Western Mathematics, menjelaskan bahwa alasan mengapa budaya Maya tidak dianggap sebagai penemu simbol bagi bilangan ”nol” adalah karena angka ”nol” lebih banyak dijumpai pada karya-karya seni mereka seperti patung-patung maya dan pahatan yang terkadang tampil dalam bentuk kerang dan selalu berwarna merah. Ricahard Diehl seorang arkeolog dan antropolog menejelaskan dalam karyanya The Olmecs: America’s First Civilization menjelaskan bahwa angka yang digunakan oleh suku maya berasal dari peradaban diluar mereka yang biasanya disebut dengan istilah perdaban olmec – yang merupakan peradaban mesoamerika yang telah punah abad ke-4 BC. Angka ”nol” dapat ditemukan pada kalender yang biasanya disebut Long Count calender (kalender yang menghebokan dunia tentang 2012) yang digunakan oleh kebanyakan suku-suku asli di amerika selatan sebelum orang eropa datang. Diketahui bahwa Calender dibuat sejak tanggal 6 september 3114 BC. Artinya 3894 tahun sebelum Al-kwarizmilm menggunakan angka Nol, orang-orang kafir yang hidup di benua amerika sudah menemukan angka 0.

Selain Suku Maya di benua Amerika di India juga telah menggunakan sistem angka Nol. hal ini dapat dilihat dari teks kitab baskali sebuah manuskrip matematika tertua yang ditulis sebelum abad ke 5 AD dalam bahasa sansekerta. Angka Nol pun sudah digunakan oleh Bhramagupta (598–668 ) seorang matematikawan dari India yang hidup pada abad ke-6 AD, atau dengan kata lain setelah 112 tahun bhramagupta meninggal, barulah Al-kwarizmilm lahir. Bramagupta dalam karyanya yang berjudul Brahmaguptasiddhanta menyebutkan Nol sebagai angka dan kemudian merumuskan hukum-hukum tentang penggunaan angka ”nol” dengan bilangan lain. Seperti jika angka nol ditambah bilangan positif maka hasilnya adalah positif. Kitab-kitab.

kesimpulan

jadi,bahwa perkembangan ilmu matematika yang pesat di daerah india telah mempengaruhi daerah sekitarnya termasuk Persia yang pada saat itu sudah dijajah oleh islam pada pertengahan abad ke 7 Masehi. Dan ilmuwan-ilmuwan persia yang sudah dipaksa menjadi muslim, pun tetap tertarik mempelajari ide-ide dari daerah-daerah kafir dari daerah sekitar mereka termasuk india. Tulisan-tulisan asal india, yunani dan Cina ini pun telah diterjemahkan ke dalam bahasa arab dan kemudian diperkenalkan kepada bangsa Eropa. Sehingga bangsa Eropa mengenal angka nol dari arab dan memanggil sistem nomor tersebut dengan istilah arabic system number. Namun sama sekali hal ini tidak membuktikan bahwa orang arablah yang menemukan angka Nol (Bahkan Alkwarizmil sendiri pun bukan orang Arab, ia orang Persia yang dijajah oleh kebudayaan Arab yang masih dipengaruhi oleh ajaran Zoroasther).